Tingkatkan kualitas SDM, pemerintah resmikan politeknik industri furnitur

KENDAL. Pemerintah meresmikan Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal, Kamis (10/1). Jumlah mahasiswa angkatan pertama sebanyak 99 orang. Seluruh mahasiswa tersebut telah disiapkan rencana penempatannya pada 16 perusahaan industri furnitur.

“Tujuan didirikannya politeknik guna mendorong pertumbuhan investasi industri melalui penyediaan tenaga kerja industri lokal yang kompeten,” jelas Sekretris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar saat memberikan sambutan.

Juga untuk memberdayakan sumber daya manusia (SDM) di wilayah Semarang khususnya Kendal untuk menjadi tenaga kerja industri kompeten sesuai kebutuhan dunia usaha industri, dan sebagai pusat inovasi dan penelitian serta pengembangan industri furnitur.

Pembangunan Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu merupakan salah satu tindak lanjut MoU antara Menteri Perindustrian dan Menteri Pendidikan Singapura yang ditandatangai dalam kegiatan Leader’s Retreat peringatan 50 tahun hubungan diplomatik RI-Singapura.

Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu telah mendapatkan ijin penyelenggaraan dari Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) dan persetujuan kelembagaan dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN & RB) dan telah memulai operasional pendidikan angkatan pertama sejak tanggal 1 Oktober 2018, dengan 3 Program Studi, yaitu Teknik Produksi Furnitur; Desain Furnitur; Manajemen Bisnis Industri Furnitur.

Sejak awal pendiriannya Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu telah bekerjasama dengan industri meliputi penyusunan kurikulum, rekrutmen dan seleksi mahasiswa, penyediaan tenaga pengajar dari industri, penyediaan tempat praktek kerja industri dan penempatan kerja lulusan.

Untuk itu, telah dilakukan penandatanganan MoU antara Pusdiklat Industri dan Kawasan Industri Kendal dalam hal penyediaan dan penyaluran tenaga kerja industri di Kawasan Industri Kendal

Dalam kurikulumnya, politeknik tersebut akan menggunakan konsep dual system. “Kami mengadopsi konsep dual system dengan pembelajaran teori dan praktek mengunakan sistem blok waktu, serta magang di industri furnitur selama 4 bulan setiap tahunnya,” imbuh Haris.

Untuk mendukung implementasi konsep dual system tersebut dan mengembangkan kurikulum pendidikan yang mengantisipasi perkembangan teknologi dan produk di pasar global, Kemenperin juga telah menjalin kerjasama dengan State Secretariat of Economic Affairs (SECO) Swiss.

Haris menjelaskan fasilitas pendidikan tersebut tidak saja diperuntukkan bagi penyelenggaraan pendidikan Politeknik, namun juga dimanfaatkan untuk penyediaan layanan kepada industri dan pelatihan tenaga kerja industri.

Sumber: Kontan